Begini Nasib Kusir Andong hingga Tukang Becak di Malioboro, Jogja

 



Kedatangan wisatawan di Stasiun Tugu, Jogja menuju Malioboro pada Sabtu (8/6/2024). Foto oleh: Annas Rohmanda P.


JOGJA - Jogja tak pernah kehabisan destinasi wisata, salah satunya Jalan Malioboro. Tak hanya sebagai area wisata, Malioboro turut menjadi pusat perekonomian di Jogja. Malioboro tak pernah sepi, setiap hari ribuan wisatawan datang. Ketika berjalan di sepanjang Malioboro kita dapat dengan mudah menemukan para pengemudi kendaraan tradisional yang menawarkan jasanya, seperti becak dan andong. 


Di tengah kemajuan teknologi, para kusir andong dan tukang becak berjuang untuk mencari nafkah. Berangkat pagi pulang Magrib, setiap hari mereka lakukan demi menyambung nasib. Akan tetapi, penumpang kendaraan tradisional kini mulai sepi karena lebih banyak wisatawan memilih menggunakan ojek online yang dirasa lebih murah.


Andong di tengah sibuknya jalanan Malioboro. Foto oleh: Annas Rohmanda P.


“Penumpangnya susah, kalah sama Grab. Dari tahun kemarin sampai sekarang penumpangnya berkurang, penghasilan kita juga turun,” jelas Fahrul Ardianto, kusir andong yang berusia 25 tahun saat diwawancarai di Malioboro pada Sabtu (8/6/2024).


Selain itu, Fahrul juga menyebutkan bahwa pemindahan pedagang dari pinggir jalan ke Teras Malioboro juga mempengaruhi penghasilan para kusir andong.


“Malioboro kan sekarang beda, kekhasannya hilang. Kalau dulu kan ada penjual di pinggir-pinggir sini. Jadi, pengunjungnya udah enggak seramai dulu,” imbuh Fahrul.

 

Selain karena hal itu, pembatasan jumlah andong oleh Dinas Perhubungan Yogyakarta dan makin sempitnya jalan di sepanjang Malioboro turut mempengaruhi penghasilan para kusir andong. Akibatnya, banyak kusir andong yang terpaksa berhenti mangkal di Malioboro, ada pun yang berhenti dari pekerjaan mereka.


“Dulu jalur lambat bisa langsung lurus, sekarang sudah dibatasi. Buat taman-taman, kalau dulu jalur lambat sama cepat bisa dua jalur,” ungkap Fahrul mengenai pembatasan jumlah andong yang beroperasi di Malioboro. 

Guntoro, salah satu tukang becak motor yang ada di Malioboro. Foto oleh: Amanda Prima 


Berdekatan dengan andong, terdapat rombongan becak motor yang terparkir rapi di salah satu sudut pinggir jalan Malioboro. Salah satu penarik becak motor di tengah rombongan itu adalah Guntoro (53).


Guntoro yang sudah menjadi tukang becak sejak 1995 pada awalnya menarik becak kayuh, kini ia beralih menggunakan becak motor untuk mencari nafkah. Pria paruh baya itu mengaku bahwa penghasilannya selama ini dalam menarik becak pun tidak menentu. 


“Sebetulnya kalau kita rajin kerja tiap hari mungkin, ya, cukuplah. Cuman saya sering libur. Paling saya tiga hari, empat hari libur. Ning akhir-akhir ini lho, umur sudah 50 ... sudah nganu itulah,” ungkapnya. 


Pria asli Malioboro itu turut mengaku bahwa penghasilannya selama seminggu  sekitar Rp80 ribu, Rp90 ribu, atau Rp100 ribu di hari biasa. Dia menambahkan bahwa akhir pekan masih terhitung sebagai hari biasa baginya.


“Kalau liburan tuh, misalkan tuh tahun baru. Ini kan termasuk biasa, kan, biasa. Sepi. Kadang bisa narik dua sampai tiga kali udah bagus,” akunya.


Hal itu tentu tak mudah bagi Guntoro. Terlebih lagi, dia harus mengisi bensin sebesar Rp20 ribu sebelum bekerja, sesuai dengan tarif sekali menarik becaknya. Belum ditambah dengan jam kerja yang biasa dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai Magrib. 


Becak motor yang dikendarainya pun hasil menyewa dari orang lain dengan biaya sebesar Rp400 ribu per bulannya. Dengan begitu, berapapun penghasilan yang Guntoro peroleh ia harus membayar sewa sebesar Rp400 ribu kepada sang pemilik becak. 


Timotius Hartanto yang membawa nampan berisi es jualannya di trotoar Malioboro. Foto oleh: Amanda Prima 


Malioboro tidak hanya dihiasi oleh para kusir andong dan tukang becak, tetapi juga penjual-penjual minuman keliling pada siang terik. Timotius Hartanto (61) adalah salah satunya. Timotius tidak menjajakan minuman buatannya sendiri, tapi mengambil dari juragan es teh. Dia mengaku sudah berjualan minuman keliling di kawasan Malioboro selama sebulan. Berada di usia senja tidak menyurutkannya untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan keluarganya.


Pria asal Salatiga itu mengakui perbedaan pendapatan antara hari kerja dan akhir pekan yang cukup jauh.


“Kalau hari-hari biasa, ya, Rp50 ribu sampai Rp75 ribu,” katanya.


Sementara itu, pada saat liburan, ada peningkatan pendapatan hingga dua kali lipat terhadap minuman yang dijualnya. Pada hari libur penghasilan Timotius berkisar pada Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Akan tetapi, hasil penjualan yang ia peroleh akan dipotong sebesar 50% untuk disetorkan kepada sang juragan minuman.


Cobaan dalam bekerja tak hanya soal penghasilan yang tak terlalu besar, tetapi juga saat penjual minuman keliling itu dikejar-kejar petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Perhubungan dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Timotius bahkan pernah pula merasakan nampan esnya dirampas. Beruntung, tak ada denda atas hal tersebut.


“Ada petugas yang mengejar-ngejar kami. Nampan saya diambil dan esnya disuruh bawa pulang,” pungkasnya.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Omzet Tukang Becak dan Kusir Andong di Malioboro Naik Dua Kali Lipat di Akhir Pekan, Ini Faktanya

KALAH 1-2 DARI IRAK, TIMNAS INDONESIA U-23 GAGAL RAIH JUARA 3 DI PIALA ASIA 2024